Tuesday, September 3, 2019

Permainan Yang Cocok Untuk Anda

Halo, ayah bunda..

Tahukah Anda? Kalau bermain sebeenranya adalah kegiatan yang paling utama bagi anak-anak untuk segala umur. Kenapa demikian? Dengan bermain maka anak Anda mendapatkan manfaat bagi ketrampilan, kreativitas dan yang paling penting imajinasinya. Nah untuk sekedar pengetahuan silakan Anda membaca informasi tentang segala jenis permainan yang dikutip dari dokter anak ternama di Amerika.



Kenali berbagai jenis permainan anak yang penting untuk perkembangannya

Dilansir dari Very Well Family, ada enam jenis permainan anak yang dilakukan sesuai usia, suasana hati, dan latar sosial, seperti:

1. Permainan ‘bebas’ (Unoccupied play)


Permainan ini biasanya banyak dilakukan ketika si kecil masih bayi. Tahap permainan ini mengacu pada kreativitas anak untuk menggerakkan tubuh secara acak dan tanpa tujuan. Ini merupakan permainan paling dasar yang dilakukan oleh anak-anak. Gunanya melatih anak untuk bebas berpikir, bergerak, dan berimajinasi tanpa aturan permainan.
Beberapa contoh permainan yang bisa Anda mainkan seperti main lempar tangkap bola. Supaya lebih merangsang perkembangan si kecil, Anda juga bisa memberikan berbagai macam mainan anak lainnya yang memiliki tekstur dan warna menarik serta bisa mengeluarkan bunyi-bunyian.
Hindari mainan yang ukurannya kecil, mengeluarkan cahaya yang tajam, dan juga terlalu besar.

2.  Bermain sendiri (Independent play)


Sesuai dengan namanya, kata independent berarti sendiri. Maksudnya, orangtua hanya sebatas mengawasi anaknya saja ketika mereka bermain sendiri. Membiarkan anak bermain sendiri sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Mengapa? Bermain sendiri berarti mendorong anak untuk membentuk sikap mandiri.
Tidak ada orang di sekitarnya yang ikut bermain, akan membuat anak menjadi lebih mengenal kemampuan dirinya sendiri dan meningkatkan rasa kepercayaan diri anak atas usahanya dalam menyelesaikan permainan.
Jenis permainan ini biasanya dilakukan oleh anak usia 2 sampai 3 tahun. Pada usia tersebut, anak-anak cenderung pemalu dan keterampilan komunikasinya belum cukup baik sehingga lebih nyaman untuk bermain sendiri.
Ada banyak cara untuk melakukan jenis permainan ini. Contohnya, seperti bermain kereta-keretaan atau mobil-mobilan, bermain boneka atau action figure, dan menyusun puzzle atau balok.

3. Permainan mengamati (Onlooker play)


Pernahkan Anda mengamati seorang anak yang hanya mengamati anak lain yang bermain? Ya, walaupun tidak ikut andil dalam permainan, anak tersebut sebenarnya sedang bermain juga. Ya, ‘permainan mengamati’ (onlooker play).
“Permainan mengamati” ini membantu si kecil untuk mengembangkan komunikasi dengan teman seusianya, memahami aturan permainan baru, dan lebih berani untuk berinteraksi dengan teman-temannya yang lain untuk membahas permainan tersebut.
Anda dapat memerhatikan anak-anak melakukan hal ini, biasanya saat bermain di luar rumah. Misalnya, ikut memerhatikan anak lain yang bermain petak umpet, melihat permainan anak lain yang bermain bola, atau melihat anak-anak perempuan yang bermain lompat tali.

4. Permainan paralel (parallel play)

Ketika berusia balita, si kecil akan mengalami masa peralihan, yaitu dari yang bermain sendiri kemudian mulai berbaur dengan teman-temannya. Namun pada awalnya mereka akan tetap bermain sendiri meski sedang bersama temannya. Hal ini disebut dengan parallel play.
Jadi ia akan cenderung fokus dengan mainan yang sedang ia mainkan, meski di sekitarnya ada temannya yang juga sedang bermain permainan yang sama. Walaupun anak masih sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memperhatikan temannya yang lain, jenis permainan ini memberikan kesempatan anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya, mereka saling bertukar mainan atau memulai obrolan kecil dengan temannya mengenai permainannya.

5. Permainan Asosiatif

Nah, ketika semakin besar si kecil akan cenderung memainkan permainan asosiatif. Tahap permainan ini hampir sama dengan permainan mengamati, tapi kali ini sang buah hati mulai ikut tertarik menirukan gerakan-gerakan permainan yang ia lihat.
Si kecil akan ikut bermain, menunjukkan rasa ketertarikannya dengan permainan tersebut. Misalnya, ia sedang melihat teman sebayanya main petak umpet. Ketika itu, si kecil tidak akan sekadar mengamati, tapi juga ikut berlarian mencari atau mengelilingi teman-temannya yang sedang bermain.
Dalam tahap permainan ini, meski anak sudah mulai ikut permainan, ia masih belum mengetahui cara melakukan permainan tersebut dengan benar atau mengetahui peraturan dari permainan.

6. Permainan berkelompok (Cooperative play)

Jenis permainan anak ini merupakan tahapan akhir ketika anak benar-benar bisa bermain dengan temannya yang lain. Biasanya cooperative play dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar atau sudah bersekolah. Permainan ini menggunakan semua keterampilan sosial yang dimiliki anak, terutama dalam berkomunikasi.
Bukan hanya mengandalkan kemampuan sendiri, seperti bermain kelereng, petak umpet, bola bekel, atau congklak. Jenis permainan ini juga membangun kerja sama anak dan teman satu kelompoknya memiliki tujuan yang sama, baik itu menyelesaikan permainan atau memenangkan permainan. Misalnya, bermain ular naga, galasin, atau sepak bola.

Monday, May 27, 2019

Mengetahui Perilaku Normal Sang Anak Berdasarkan Umurnya

Selain memenuhi kebutuhan nutrisi anak, orangtua juga perlu memerhatikan perilaku si kecil. Pasalnya, perilaku tidak normal yang ditunjukkan si kecil bisa menjadi pertanda serius adanya masalah perilaku. Supaya bisa dideteksi lebih awal, perhatikan ulasan mengenai sikap anak yang normal dan tidak yang sesuai usia berikut ini.


Normalnya perilaku si kecil, menandakan bahwa ia sehat secara mental. Mari lihat lebih jelas sikap normal yang umumnya ditunjukkan buah hati Anda sesuai dengan usianya di bawah ini.

1. Perilaku normal anak usia 4 hingga 5 tahun

Pada usia ini, anak-anak sudah mulai menunjukkan kemandirian. Ia mungkin akan lebih sering mengucapkan “tidak”, “jangan”, atau “biar aku saja” ketika menghadapi suatu hal.
Kata-kata tersebut diucapkan anak untuk meyakinkan orang lain bahwa ia bisa melakukan suatu tugas sederhana sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hal ini mungkin akan membuatnya terlihat sedikit keras kepala. Namun, saat si kecil tidak mampu menyelesaikan tugas tersebut sendiri, ia akan meminta bantuan Anda. Maka itu, biarkan tahap ini menjadi ajang untuknya mengembangkan sikap kemandirian dan rasa percaya diri.
Pada usia ini, akan akan tetap menunjukkan kemarahan. Namun, menjelang prasekolah biasanya kontrol emosi anak menjadi lebih baik. Dibanding menunjukkan sikap agresif, si kecil kemungkinan lebih banyak mengutarakan kemarahannya lewat kata-kata.
Untuk anak usia ini, teknik mendisiplinkan anak yang paling bagus adalah metode time out. Metode ini memungkinkan anak memiliki waktu menyendiri untuk menenangkan diri dan melepaskan kemarahannya.

2. Perilaku normal anak usia 6 hingga 9 tahun

Memasuki usia sekolah, anak memiliki tanggung jawab yang lebih banyak dari sebelumnya. Contohnya, belajar, membersihkan kamar, atau menjaga kebersihan dirinya sendiri.
Sesekali anak mungkin akan merasa malas dan melanggar aturan. Namun, dengan adanya penerapan hukuman, anak tentu akan mengikuti aturan yang Anda buat.
Anak akan mulai menunjukkan kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri dan mencoba berbagai hal baru. Jika ia mengalami kegagalan, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit kembali dan menata emosinya. Pada saat ini, kehadiran Anda sangat dibutuhkan untuk memberinya dukungan.
Teknik mendisiplinkan anak yang cocok untuk usia ini adalah menerapkan sistem hadiah (reward) dan hukuman (punishment).
Jika ia melakukan sesuatu yang baik dan membanggakan, tunjukkan apresiasi Anda untuk menghargainya. Namun, terapkanlah hukuman bila ia melakukan sebuah kesalahan.

3. Perilaku normal anak usia 10 hingga 12 tahun

Tanggung jawab yang semakin besar dan pola pikir yang lebih dewasa, membuat anak menjadi lebih pandai menyampaikan pendapatnya.
Anda mungkin mendapati anak yang menuju remaja ini bersikap menentang ketika merasa sesuatu tidak sesuai dengan pemikirannya.
Sayangnya, rasa penasaran anak pada usia ini menjadi lebih besar. Sering kali mereka melakukan sesuatu tanpa berpikir dua kali alias tidak memikirkan konsekuensinya.
Agar anak tidak salah mengambil keputusan, pendekatan antara orangtua dan anak sangat diperlukan. Cobalah untuk membuka percakapan mengenai bagaimana perasaannya dan apa saja masalah yang ia hadapi di sekolah maupun lingkungan.

4. Perilaku normal anak usia 13 tahun

Memasuki fase menjadi remaja, anak sering kali mudah terbawa pergaulan dan kerap kali membuat keputusan yang tidak sehat.
Anda mungkin memerhatikan perubahan cara ia berpakaian, berbicara, atau merias diri. Ini wajar, karena anak sedang membangun identitas diri.
Pada usia ini, anak mungkin akan melakukan pemberontakan untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali atas kehidupan mereka sendiri.
Membuka pembicaraan untuk memecahkan masalah merupakan cara efektif untuk mengatasi perilaku buruk anak pada usia ini. Anda perlu memastikan jika anak mengambil keputusan yang benar, paham dengan tanggung jawab dan konsekuensinya.

Tanda adanya masalah perilaku pada anak

Bersikap nakal dan membuat ulah adalah bagian dari perkembangan anak. Hanya saja, kenakalan ini masih bisa Anda kendalikan.
Bila sikap buruk anak membuat Anda dan keluarga kewalahan, Anda patut mencurigai adanya masalah perilaku yang terjadi pada anak.
Dilansir dari laman Medline Plus yang dikelola oleh National Institute of Health, ada beberapa tanda yang menjadi peringatan adanya perilaku tidak normal pada anak, di antaranya:
  • Melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain
  • Suka berbohong atau mencuri
  • Sering merusak sesuatu dan sering bolos
  • Sering tantrum (mengamuk) dan tidak segan-segan memukul atau menggigit
  • Sering melanggar peraturan yang diterapkan di rumah, sekolah, dan lingkungan
  • Suasana hati sangat mudah berubah
Tanda-tanda tersebut bisa jadi merupakan gejala dari depresi, penyakit bipolar, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), atau autism spectrum disorder. Jika Anda ragu atau mencurigai sesuatu, tak ada salahnya berkonsultasi ke dokter ataupun psikolog.
Dengan begitu, Anda akan mengetahui cara yang tepat memperlakukan anak Anda.

Tuesday, May 21, 2019

Tips Melatih Kebisaan Sang Anak Untuk Mengatur Waktu

Seiring bertambahnya usia anak, ia harus mampu mengatur waktu. Kemampuan ini perlu dilatih sejak kecil agar segala sesuatu dapat berjalan dengan baik. Anda tidak perlu khawatir, lihat beberapa cara mengajari anak agar dapat mengatur waktunya dengan baik di kemudian hari.

Tips mengajari anak mengatur waktu

Semakin besar, anak akan dihadapkan berbagai kegiatan, baik itu di rumah maupun sekolah. Agar semua kegiatannya dapat dilakukan dengan baik, Anda perlu mengajari anak mengatur waktu.
Dengan begitu, baik kegiatan satu dengan yang lainnya tidak akan saling bentrok atau membuatnya keteteran.

Pandai mengatur waktu, juga mengajarkan anak Anda untuk hidup disiplin. Dilansir dari laman Kids Health, anak usia 4 tahun sudah mulai menunjukkan sikap mandiri dan bisa mengorganisasikan sesuatu.
Ia sudah merasa mampu sesuatu mengandalkan kemampuannya sendiri. Pada usia itulah, Anda sudah bisa mulai mengajarkan anak untuk mengatur waktu menjalani kegiatannya sehari-hari.
Misalnya, makan sendiri, membereskan mainan, mandi, dan aktivitas lainnya. Selanjutnya, Anda dapat membiasakan anak untuk menjalani berbagai kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Berikut ada beberapa tips yang bisa Anda ikuti untuk mengajari kemampuan mengatur waktu pada anak.

1. Buat jadwal kegiatan

Untuk mengajari anak mengatur waktu, ajaklah ia untuk membuat jadwal kegiatan. Hal ini akan membantu anak lebih terarah dalam menjalani kegiatannya pada hari itu.
Awali dengan jadwal kegiatan sederhana, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Lengkapi jadwal tersebut dengan waktu supaya anak paham kapan ia harus memulai aktivitas sebelum beralih ke aktivitas lainnya.
Ajak anak untuk membuat jadwal kegiatan dengan alat tulis yang ia punya, agar lebih menyenangkan. Kemudian, tempelkan jadwal di tempat yang mudah dilihat.

2. Jangan lupa sediakan waktu luang

Mengajari anak mengatur waktu bukan berarti memenuhi seluruh waktu di hari itu dengan setumpuk kegiatan.
Saat membuat jadwal, pastikan ia juga membuat jadwal untuk waktu luang atau waktu bebasnya.
Waktu ini bisa dimanfaatkan anak untuk bermain sendiri, tidur, atau melakukan sesuatu yang ia sukai. Dengan begitu, anak tidak akan merasa terbebani dan terkekang mengikuti jadwal yang ia buat.

3. Beri hadiah sebagai motivasi

Agar anak bisa mengatur waktu, ia harus terbiasa dengan jadwal kegiatan yang ia buat. Ajak anak untuk menandai kegiatan yang ia buat dengan coretan atau ceklis.
Tujuannya, agar si kecil paham apa saja kegiatannya di hari itu dan berhasil melakukannya dengan baik.
Jika, si kecil mulai melanggar jadwal, Anda boleh mengingatkannya dengan lembut, seperti, “Ayo, waktu bermainnya sudah habis. Sekarang waktunya mandi, lho…” atau “Wah, sudah jam 4 sore, waktunya apa ya, Dek, sekarang?”
Untuk menambah motivasi anak saat mengajari mengatur waktu, Anda juga bisa memberinya hadiah atau pujian. Namun, jangan berlebihan karena ini bertujuan untuk memotivasi anak, bukan memanjakannya.

4. Jangan biarkan overschedule

Kesalahan yang umum yang dilakukan orangtua ketika mengajari anak mengatur waktu adalah mengikutsertakannya ke banyak kegiatan, seperti les ini dan itu atau beragam ekstrakurikuler ketika ia di bangku sekolah.
Sebenarnya boleh-boleh saja, namun Anda harus memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak berlebihan.
Banyak kegiatan memang membuat anak jadi aktif. Sayangnya, jika berlebihan anak akan menjadi kewalahan, kelelahan. Bukannya menjalankan semua jadwal, ia malah bisa jatuh sakit dan jadwal kegiatannya jadi berantakan.

5. Penuhi kebutuhan nutrisinya

Agar bisa mengikuti semua kegiatan yang telah dijadwalkan, anak tentu perlu energi. Untuk itulah Anda perlu memastikan kebutuhan nutrisi anak tercukupi, di samping terus mengajari cara mengatur waktu.
Siapkan makanan yang sehat setiap hari, termasuk camilan. Makanan yang sehat tidak hanya menyediakan energi, tapi juga membantu anak untuk fokus dengan kegiatan yang dilakukan.
Dengan begitu, ia dapat menyelesaikan jadwal yang telah dibuatnya sendiri dengan lebih baik.

Permainan Yang Cocok Untuk Anda

Halo, ayah bunda.. Tahukah Anda? Kalau bermain sebeenranya adalah kegiatan yang paling utama bagi anak-anak untuk segala umur. Kenapa demi...